HADAPI RINTANGAN, WUJUDKAN CITA-CITA
Mentari mulai menyapa , sinarnya memberi semangat baru. Terutama bagiku, sosok yang tengah mencoba untuk selalu menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan perubahan yang akan kulakukan, tapi akan ku cari, dan ku temukan sebuah pendewasaan diri. Dewasa dalam segala hal(positif), baik dengan diri sendiri atau orang lain. Bagiku dewasa yang utama adalah dewasa kepada diri sendiri. Dengan adanya dewasa kepada diri sendiri, maka lebih terbuka lebar jalan menuju kebahagiaan. Menurut saya, bahagia itu sederhana, yaitu ketika aku bisa melihat anggota keluargaku hidup tenang,harmonis dan sejahtera. Keluargaku memang bukan keluarga yang identik dengan hal itu, tetapi aku sangat bahagia mempunyai mereka. Lalu bahagia itu,ketika aku bisa menggapai cita-citaku dalam derasnya arus kegagalan. Jika aku bisa menggapai cita-citaku, aku akan sangat senang sekali, karena dengan begitu setidaknya aku telah membanggakan dan membahagiakan orang tuaku, walaupun itu tidak sepadan dengan pengorbanan mereka yang luar biasa besar. Aku masih ingat, dulu ketika smp, ketika aku melakukan hal yang sangat amat bodoh “aku mogok sekolah”. Ketika itu mereka berusah sangat keras untuk membujukku. Mulai dari mau di belikan apa saja yang aku minta, didatangkan para teman-temanku. Banyaklah pengorbanannya. Hingga akhirnya aku mau untuk melanjutkan sekolah. Aku tidak tega melihat orang tuaku bersedih. Kalau melihat ke masa itu aku sendiri bingung kenapa aku bisa sampai mogok sekolah.aku tidak mengerti ,kenapa aku bisa setega itu kepada orang tua. Semoga itu tidak terulang lagi, kepadaku atau kepada yang lainnya, semoga tidak .AMIIN. Dan semenjak saat itu, semenjak aku mulai menemukan sebuah pendewasaan diri. Aku putuskan untuk selalu menjadi anak yang baik, serta rajin sekolah dan yang paling penting harus bisa membahagiakan mereka, meskipun terkadang mereka salah pengertian terhadap apa yang aku lakukan, yang sebenarnya aku ingin berbuat baik, ternyata mereka menangkapnya berbeda. Tetapi ya sudahlah, biarlah. Yang terpenting fokus kekeputusan utama “membahagiakan orang tua dan menjadi sosok yang lebih baik lagi, lebih dewasa lagi,dan lebih bisa memahami perasaan orang lain. Dimulai dengan dewasa dalam menggapai cita-citaku. Cita-citaku, tak akan pernah pudar, ku biarkan dia menggantung di depan keningku, agar “dia” tetap terlihat dan selalu terlihat olehku. Memberiku tujuan dan motivasi kemana ku harus melangkah, dan menjadi apa aku dimasa depan. Hingga akhirnya, suatu saat nanti, di waktu dan saat yang tepat, ketika impian itu sudah berada di genggamanku dan telah menyatu dengan ragaku. Dan jika itu sudah terjadi tidak akan ku biarkan dia pergi dariku, akan ku jaga, dan selalu ku tekuni, dan akan ku kembangkan cita-cita itu sampai kelangit, sampai setinggi-tingginya. Memang tidak mudah untuk menggapai sebuah cita-cita, aku sendiri merasa seperti itu. Merasa pernah terpuruk di tengah jalan. Kamu tahu apa yang membuatku terpuruk ? Ya.. “masalah”. Sehingga diperlukan semangat yang keras dan tekat yang kuat. Dan tidak lupa, yang selalu dan harus aku lakukan , yaitu berdo’a kepada Tuhan , supaya memberikan kelancaran dan kemudahan serta kesabaran yang luar biasa kepadaku. Dan juga meminta ijin kepada orang tua. Karena ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Masalah memang selalu mengikuti dan selalu datang. Masalah itu bisa masalah karena alam, karena teman, karena ekonomi, atau mungkin karena faktor keluarga dan juga masalah yang muncul dari diri sendiri. Dari sekian pengalamanku, masalah yang sangat membuatku terpuruk adalah masalah yang muncul dari diriku sendiri. Dari gejolak batinku yang aku sendiri tidak bisa mengerti kenapa bisa terjadi. Masalah itu seperti, ketika aku ingin maju tapi tidak pernah tepat untuk mengambil langkah. Terkadang aku berkeinginan menjadi seorang psikolog (seorang yang mampu dan mempunyai kepekaan dalam menghadapi masalah, baik masalah diri sendiri atau masalah orang lain). Namun ketika aku menemukan sesuatu atau hal yang baru dan itu menarik, sekejap itu juga aku berubah pikiran, dari yang berkeinginan menjadi seorang psikolog, berubah keinginan menjadi seorang desainer, pelukis, bahkan pernah aku bercita-cita menjadi seorang model. Aku sangat bingung terhadap diriku sendiri. Aku tidak tahu apakah itu hal wajar yang sering dialami para remaja, atau merupakan keinginan semataku yang hanya ingin mencoba hal baru. Aku bingung ! Lalu, masalah dari diriku sendiri yang pernah kualami dan mungkin semua orang juga mengalaminya. Sebut saja masalah itu dengan kata “malas”. Bagiku malas itu suatu momok yang sangat mengerikan. Kamu tahu kenapa ? karena aku termasuk seorang anak yang bisa dibilang sangat malas. Apalagi jika sudah bermain handphone ataupun facebookkan. Serasanya sudah terlena, terhipnotis, kecanduan, dengan dua kegiatan itu. Menyebalkan, menyebalkan itu ketika aku tahu dua kegiatan itu tidak bermanfaat, tetapi masih saja aku lakukan, bukan hanya aku, mungkin semua orang di luar sana juga begitu. Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi di era globalisasi ini. Semua yang seharusnya diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia, ternyata semakin membuat para manusia bermalas-malasan. Bukan meringankan, tetapi tidak mengerjakan. Selain itu, selain masalah yang muncul dari diriku sendiri , yaitu masalah yang muncul karena teman. Aku masih ingat waktu itu, ketika ada sebuah tugas dari seorang guru. Aku sudah berusaha semampuku untuk mengerjakannya. Tetapi ada beberapa temanku, dia mencelaku terlalu lama mengerjakan. Ya memang aku tahu, mereka pintar, mereka cepat selesai dalam mengerjakan tugas. Tetapi aku berusaha untuk kembali menjadi seorang yang dewasa. Aku berpikir mungkin mereka berkata seperti itu karena ingin menyemangatiku(walaupun sebenarnya caranya sedikit salah). Aku berterimaksih kepada mereka, aku akan menghadapi celaan mereka sebagai tujuanku, bahwa aku harus seperti mereka, harus rajin, tidak pernah mengenal lelah, selalu berusaha, dan terus melangkah. Aku pasti bisa mengalahkan mereka, akan kubuktikan, “aku bisa lebih baik dari mereka” . Lalu masalah yang pernah kualami ketika hendak menggapai cita-citaku adalah masalah karena ekonomi dan keluarga. Memang sedikit mengiris hati jika menceritakannya. Tapi itu pasti, coba saja bayangkan, ketika kita hendak menuju tujuan kita atau cita-cita kita, tiba-tiba saja ada batu kecil yang membuat kita jatuh. Seperti itulah yang mungkin aku alami. Ketika aku memutuskan atau berkeinginan untuk melanjutkan sekolahku. Ternyata keadaan tidak memungkinkan. Aku ingin menjadi desainer, dan itu harus di tempuh di Kota Bandung. Ingin aku memilih kejuruan itu, tetapi orang tua tidak menyetujui karena alasan jarak jauh. Namun ada hal lain yang membuat hatiku semakin teriris. Ketika uang menjadi modal dasar untuk menggapai impian, yah memang tidak dipungkiri, sedikit banyak memang benar. Namun pantaskah itu terjadi, tidak pantas, sangat tidak pantas. Tetapi ya mungkin ini jalan dari Tuhan kepadaku, mungkin pilihanku bukan untuk menjadi itu, mungkin ada jalan lain yang lebih baik untukku dan cocok dengan keinginan orang tuaku. “semoga” Kini yang bisa kulakukan adalah menghadapi masalah itu, jangan pernah sembunyi atau lari, hadapilah jika kita ingin maju. Jika tidak, kita akan semakin lama dalam masalah itu, dan bisa jadi tidak akan mampu mewujudkan cita-cita kita. Hadapilah masalah, anggaplah sebagai sebuah tantangan, sebuah tantangan yang sangat menantang. Dan harus kita ingat. Kita harus memenangkan tantangan itu. “INGAT KITA ADALAH PEMENANG DARI CITA-CITA KITA”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar