LOMPATAN SANG JUARA
” BANGKITLAH! SETIAP ORANG PASTI PERNAH GAGAL, YANG
PENTING ANDA HARUS BANGKIT “
Semua
orang pasti punya cita-cita. Seperti halnya aku. Aku mempunyai cita-cita dan
impian yang sangat tinggi. Segalanya berawal tanpa kusadari. Hanya saja
cita-citaku pernah runtuh di tengah jalan. Bukan karena keputusasaan atau hanya
sebuah cita-cita aneh. Terkadang sempat ku merenungkan diri sejenak, bertanya
kepada guyuran air hujan. Namun tak akan ada jawaban. Hanya angin sepoi yang
semilir masuk ke relung jiwa.
Malam
itu tidak seperti biasanya raut muka merenungkan kesedihan yang teramat sangat
tercermin disana. Keceriaan seakan sirna. Segores sang rembulan menampakkan
dirinya dengan cerahnya. Lantunan suara yang hanya mampu membuatku terhentak
keluar.
Perkenalkan
aku adalah seorang anak berasal dari keluarga sederhana menengah kebawah yang
mempunyai cita-cita tinggi. Mulai dari umur memasuki bangku sekolah tanpa
disadari. Aku memulai salah satu tahap untuk bermimpi kelak akan jadi apa dan
mau bagaimana. Walaupun faktanya banyak ide yang memunculkan angan-angan dan
pengaruh dari sekitar bahkan terkadang sekedar ikut-ikutan teman, tapi itulah
awal ku memulai hidupku sesungguhnya.
Aku
tinggal disini. Di sebuah kota ramai, sibuk, dan padat penduduk. Aku tinggal
bersama keluarga besar dari ibu. Dan kini ku telah menginjak bangku SMK, tak
ada bedanya dengan teman sebayaku. Bahkan aku masih lebih beruntung bisa
melanjutkan pendidikan. Tapi jika terlihat seluk-beluk hidupku. Aku mampu
melanjutkan pendidikan hingga sekarang karena keluarga besarku. Semua biaya
hidup bahkan hiburanku pun mereka yang menanggung. Jika ditanya orang lain “
emang kemana orang tuamu? ” aku hanya
mampu menjawab “ ada kok “. Lalu terhenti dan bepikir “ kenapa biaya hidupku
ditanggung oleh kakekku? Bukankah sebaliknya? “ hening, tanpa jawaban.
Juni
sudah tiba, saatnya untuk registrasi menuju sekolah selanjutnya. Rasa deg-degan
dan penasaran selalu muncul di otakku. Selalu bertanya-tanya bagaimana ya?
hidup di SMK nanti???. Bayanganku selalu terpacu pada ketatnya peraturan yang
akan diterapkan di SMK. Awalnya aku tak mau mengambil jurusan tersebut. Karena berbagai
alasan tak masuk akal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu aku berusaha
menyadari Tuhan tau yang lebih baik untukku dan demi kepentingan dan kebaikanku
lewat perantara kehendak orang tua. Dan semua terjadi karena suatu alasan.
Jika
aku boleh memilih impianku setelah SMK banyak sekali yang kutargetkan. ANDAIKAN
AKU BISA KULIAH, MONDOK, KERJA. Terkadang jika aku bercerita tentang
cita-citaku kepada orang lain mereka hanya sekedar mendesis kebatinan “ mana
mungkin tiga-tiganya kau raih, apalagi hanya lulusan SMK jurusan busana? “
pikirnya. Asalkan mereka tau cita-citaku bukan sekedar filosofi belaka, aku
hanya mengharapkan setetes teguk
kehidupan untuk memperbaiki nasib keluargaku dengan meraih cita-cita. Tapi saat
ini aku mempunyai kendala yang serius yaitu menyangkut biaya yang kubutuhkan.
Aku tak mungkin memaksa kehendakku kepada orang tuaku, yang ada bukan
meringankan justru akan membebani. Sebenarnya banyak pihak dari keluargaku yang
mendukungku. Akan tetapi Ibuku hanyalah ibu rumah tangga, ayahku hanyalah
pekerja buruh/ojek yang tak pasti waktu. Tak ayal aku juga mempunyai 2 orang
adik yaang juga membutuhkan pendidikan. Sehingga menuntutku untuk menerimanya.
Dan kini ku memiliki sebuah cita-cita terpuji layaknya
kebanyakan remaja seusiaku. aku berharap kelak aku mampu mencapai sebuah
kesuksesan sebagaimana yang di harapkan meski disisi lain aku menyadari bahwa
untuk merealisasikan hal tersebut harus banting tulang. Sebuah hal yang sangat
sulit tentunya, untuk menjalani hari-hari seperti layaknya teman-teman sebayaku
saja aku tidak pernah bisa karena kondisi keluargaku yang sangat membingungkan.
Namun, ku mencoba tetap tegar dan berusaha ikhlas menerima apa yang telah
menjadi ketetapan Tuhan. Aku tidak akan kalah dan terpuruk , walau seberat
apapun masalah yang aku hadapi. Karena aku hanya manusia lemah dihadapan Tuhan
dan orang tuaku bukan di hadapan manusia lainnya
# Tuhan. . . Aku percaya saat aku terjatuh dan
menderita , Engkau akan datang dan mengangkatku. Terimakasih Tuhan, sebab itu
lah sampai hari ini aku tetap dapat berdiri tegak mengadapi kegagalan yang aku
alami.
Bagiku hidup adalah untuk memberikan yang terbaik,
agar kelak aku akan mendapatkan yang terbaik juga. Hal ini selalu disematkan
dalam lubuk hati ketika aku merasa benar-benar lelah dan disakiti oleh
kondisinya. Melawan hari dan terus berlari, itulah yang tertanam dalam jiwaku.
Aku ingin sukses, memang aku tidak memberikan ukuran
kesuksesan, yang aku ingin katakan hanya “ketika diriku menjadi lebih baik
dalam hal apapun, maka aku adalah orang yang sukses”. Hari demi hari, tahun
demi tahun, perjalanan demi perjalanan akhirnya aku benar-benar mampu
menapakkan kaki dilandasan dimana kian dekat dengan impian..
***
Disaat
langit terlihat indah, cahaya matahari pagi bersinar menghangatkan tubuh. Hatiku
penuh kedamaian. Wajahku berseri-seri menyambut kebahagiaan telah menanti.
Tiba-tiba terdengar, Braaakkk!! Badai itu datang menghempas. Tidak pernah
diduga dan dibayangkan sebelumnya. Begitulah cobaan hidupku menghempas, meluluh
lantakkan relung yang paling dalam. Tanpa permisi dan tanpa peduli, apakah siap
atau tidak, apakah menerima atau menolak. Membuat hatiku hancur remuk redam dan
menggoreskan luka yang teramat pedih. Sampai anda berteriak, "Ya Allah,
kenapa aku diuji seberat ini?"
Dalam
kesendirian dan kesepian diselimuti oleh kepedihan. Kepedihan yang kehadirannya
tidak pernah anda kehendaki namun kemana-mana selalu mengikuti dan menemani
diri anda. Dada terasa perih bagai teriris-iris. Tidak lagi mampu berpikir
jernih, Apapun yang dirasakan, apapun yang dipandang, didengar semuanya terasa
kepedihan. Hempasan cobaan telah membuat tubuh terasa lunglai. Terpuruk dalam
lembah hitam, yang terlihat hanya hitam kelam. Di depan, di belakang, di
samping yang ada hanyalah gelap gulita. Walau sudah berusaha, berteriak minta
tolong, mendorong, menyingkirkan tetap saja gelap gulita sehingga tidak lagi
bisa bergerak maju, menatap ke depan dengan baik, tidak lagi mampu berpikir
dengan jernih, tidak lagi merasakan apapun, kemudian melemah.
Hampir
setahun berjalan tugas sekolahku hampir membuat jantung berdebar. Semua
kegiatan itu merupakan nilai point juga untuk menentukan kelulusan. Awalnya aku
sangat iri dengan teman-temanku mereka menyenangi dengan apa yang seharusnya
disenangi. Terkadang aku ingin mengerutui diri sendiri, aku berada di situasi sekolah
diluar bayanganku bahkan sempat tengah jalan aku ingin memutuskan pindah
sekolah. Tugasku sempat kacau balau bahkan aku sempat disuruh mengulang tugas
tersebut. Lantas bagaimana agar aku bisa keluar dan bangkit dari keterpurukan?
ditengah keterpurukan, hidupku terasa gelap gulita dan hitam kelam. Ku mencoba
tuk bersyukur, musibah dan cobaan yang anda alami ada nikmat rohani yang Allah
berikan agar aku bersabar dan diingatkan untuk kembali kepada Allah. Seakan pikiran negatif pun muncul, dan
akhirnya aku sempat down. Betapa tidak, aku hanya memikirkan jika usahaku waktu
itu sia-sia. Disisi lain aku bersyukur aku masih mempunyai dukungan di
sekililingku. “Hari ini aku boleh kalah.. tapi esok hari adalah hari-hari
kemenanganku, dan kau tidak ada kesempatan untuk melihatnya lagi”. Yang
akhirnya membuatku termotivasi karena ” TIDAK ADA PANDANGAN YANG LEBIH MENYEDIHKAN DARIPADA ORANG MUDA YANG
PESIMIS “ Kalau aku ada kemauan, apapun aku bisa.
” Masa lalu merupakan sebuah api unggun, bila anda ingin mempelajarinya
sesuatu darinya. Jika tidak, janganlah membuang waktu dengan merenunginya “
Dan sekarang aku belajar dari masa lalu dan tak ingin terjebak
dengan kenyamanan sementara, yang kadang akan membuat merasa sudah puas,
padahal bukan itu sebenarnya yang aku inginkan. Nikmati hasil sementaranya,
tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya. Suksesku
sudah di depan mata !
“Menunda
Kesenangan Kecil Demi Kesuksesan Besar”
Cita-cita erat kaitannya dengan impian, keinginan, dan
satu hal manusia adalah makhluk yang paling tidak pernah puas, betul? Untuk itu
kita punya tombol untuk terus menyalakan “ingin”, bagaimana nanti? bagaimana
nanti? Dan bagaimana nanti dalam hidup. Kalau gak ada impian tidak ada bedanya
sama robot, hidup tapi gak ada nyawanya, gak ada nafsu, gak ada harapan. Justru
dengan rajin menyalakan sinyal harapan dalam hidup, hidup kita makin lebih
hidup.
Hanya saja, ternyata cita-cita kita tadi, tidak bisa
jadi sekedar, sekedar cita-cita, sekadar ingin. Bila kita sekedar ingin,
berarti kita belum benar-benar menginginkannya dan bisa jadi juga sebab itulah
Allah menunda untuk menjadikan itu terwujud untuk kita.
Aku yang dulu punya cita-cita ingin jadi farmasi/psikolog/arsitek. Lalu
aku yang kini punya impian, harapan dan cita-cita ingin menjadi ARSITEK DAN
DESAINER. Banyak angan-angan dibenakku. Tapi biarlah waktu yang berbicara. DAN
TUNGGU TANGGAL MAINNYA!!
Bagiku punya cita-cita setinggi langit, bukanlah hal yang menakutkan, bila tidak
punya cita-cita bolehlah aku merasa takut. Aku tidak takut dan gentar walau pun
rintangan itu setinggi gunung dan sedalam lautan. Karena semangatku setinggi
langit dan sedalam samudra. Yang aku
butuhkan hanyalah konsentrasi pada tujuan. dan semua itu harus ku lalui dengan
perjuangan tanpa henti, dan do’a restu dari orang tuaku lalu pasrah kepada Yang
Maha Kuasa.
Aku mempunyai MOTTO dalam hidupku :
“Bila gagal, ingatlah tentang kesuksesan, tapi saat gagal, ingatlah akan
kegagalan”.
“Kesuksesan itu bukan untuk dibanggakan dan dimiliki sendiri, tapi adalah
untuk dibagikan”,
KARYA : FITRIA
AYU RAHMAWATI (XI,BS 4/ 09)
SMK NEGERI 6, Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar