Jumat, 18 Oktober 2013

CITA-CITAKU



LOMPATAN SANG JUARA

” BANGKITLAH! SETIAP ORANG PASTI PERNAH GAGAL, YANG PENTING ANDA HARUS BANGKIT “
Semua orang pasti punya cita-cita. Seperti halnya aku. Aku mempunyai cita-cita dan impian yang sangat tinggi. Segalanya berawal tanpa kusadari. Hanya saja cita-citaku pernah runtuh di tengah jalan. Bukan karena keputusasaan atau hanya sebuah cita-cita aneh. Terkadang sempat ku merenungkan diri sejenak, bertanya kepada guyuran air hujan. Namun tak akan ada jawaban. Hanya angin sepoi yang semilir masuk ke relung jiwa.
Malam itu tidak seperti biasanya raut muka merenungkan kesedihan yang teramat sangat tercermin disana. Keceriaan seakan sirna. Segores sang rembulan menampakkan dirinya dengan cerahnya. Lantunan suara yang hanya mampu membuatku terhentak keluar.
Perkenalkan aku adalah seorang anak berasal dari keluarga sederhana menengah kebawah yang mempunyai cita-cita tinggi. Mulai dari umur memasuki bangku sekolah tanpa disadari. Aku memulai salah satu tahap untuk bermimpi kelak akan jadi apa dan mau bagaimana. Walaupun faktanya banyak ide yang memunculkan angan-angan dan pengaruh dari sekitar bahkan terkadang sekedar ikut-ikutan teman, tapi itulah awal ku memulai hidupku sesungguhnya.
Aku tinggal disini. Di sebuah kota ramai, sibuk, dan padat penduduk. Aku tinggal bersama keluarga besar dari ibu. Dan kini ku telah menginjak bangku SMK, tak ada bedanya dengan teman sebayaku. Bahkan aku masih lebih beruntung bisa melanjutkan pendidikan. Tapi jika terlihat seluk-beluk hidupku. Aku mampu melanjutkan pendidikan hingga sekarang karena keluarga besarku. Semua biaya hidup bahkan hiburanku pun mereka yang menanggung. Jika ditanya orang lain “ emang kemana orang tuamu? ”  aku hanya mampu menjawab “ ada kok “. Lalu terhenti dan bepikir “ kenapa biaya hidupku ditanggung oleh kakekku? Bukankah sebaliknya? “ hening, tanpa jawaban.
Juni sudah tiba, saatnya untuk registrasi menuju sekolah selanjutnya. Rasa deg-degan dan penasaran selalu muncul di otakku. Selalu bertanya-tanya bagaimana ya? hidup di SMK nanti???. Bayanganku selalu terpacu pada ketatnya peraturan yang akan diterapkan di SMK. Awalnya aku tak mau mengambil jurusan tersebut. Karena berbagai alasan tak masuk akal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu aku berusaha menyadari Tuhan tau yang lebih baik untukku dan demi kepentingan dan kebaikanku lewat perantara kehendak orang tua. Dan semua terjadi karena suatu alasan.
Jika aku boleh memilih impianku setelah SMK banyak sekali yang kutargetkan. ANDAIKAN AKU BISA KULIAH, MONDOK, KERJA. Terkadang jika aku bercerita tentang cita-citaku kepada orang lain mereka hanya sekedar mendesis kebatinan “ mana mungkin tiga-tiganya kau raih, apalagi hanya lulusan SMK jurusan busana? “ pikirnya. Asalkan mereka tau cita-citaku bukan sekedar filosofi belaka, aku hanya mengharapkan  setetes teguk kehidupan untuk memperbaiki nasib keluargaku dengan meraih cita-cita. Tapi saat ini aku mempunyai kendala yang serius yaitu menyangkut biaya yang kubutuhkan. Aku tak mungkin memaksa kehendakku kepada orang tuaku, yang ada bukan meringankan justru akan membebani. Sebenarnya banyak pihak dari keluargaku yang mendukungku. Akan tetapi Ibuku hanyalah ibu rumah tangga, ayahku hanyalah pekerja buruh/ojek yang tak pasti waktu. Tak ayal aku juga mempunyai 2 orang adik yaang juga membutuhkan pendidikan. Sehingga menuntutku untuk menerimanya.
Dan kini ku memiliki sebuah cita-cita terpuji layaknya kebanyakan remaja seusiaku. aku berharap kelak aku mampu mencapai sebuah kesuksesan sebagaimana yang di harapkan meski disisi lain aku menyadari bahwa untuk merealisasikan hal tersebut harus banting tulang. Sebuah hal yang sangat sulit tentunya, untuk menjalani hari-hari seperti layaknya teman-teman sebayaku saja aku tidak pernah bisa karena kondisi keluargaku yang sangat membingungkan. Namun, ku mencoba tetap tegar dan berusaha ikhlas menerima apa yang telah menjadi ketetapan Tuhan. Aku tidak akan kalah dan terpuruk , walau seberat apapun masalah yang aku hadapi. Karena aku hanya manusia lemah dihadapan Tuhan dan orang tuaku bukan di hadapan manusia lainnya
# Tuhan. . . Aku percaya saat aku terjatuh dan menderita , Engkau akan datang dan mengangkatku. Terimakasih Tuhan, sebab itu lah sampai hari ini aku tetap dapat berdiri tegak mengadapi kegagalan yang aku alami.
Bagiku hidup adalah untuk memberikan yang terbaik, agar kelak aku akan mendapatkan yang terbaik juga. Hal ini selalu disematkan dalam lubuk hati ketika aku merasa benar-benar lelah dan disakiti oleh kondisinya. Melawan hari dan terus berlari, itulah yang tertanam dalam jiwaku.
Aku ingin sukses, memang aku tidak memberikan ukuran kesuksesan, yang aku ingin katakan hanya “ketika diriku menjadi lebih baik dalam hal apapun, maka aku adalah orang yang sukses”. Hari demi hari, tahun demi tahun, perjalanan demi perjalanan akhirnya aku benar-benar mampu menapakkan kaki dilandasan dimana kian dekat dengan impian..  
***
Disaat langit terlihat indah, cahaya matahari pagi bersinar menghangatkan tubuh. Hatiku penuh kedamaian. Wajahku berseri-seri menyambut kebahagiaan telah menanti. Tiba-tiba terdengar, Braaakkk!! Badai itu datang menghempas. Tidak pernah diduga dan dibayangkan sebelumnya. Begitulah cobaan hidupku menghempas, meluluh lantakkan relung yang paling dalam. Tanpa permisi dan tanpa peduli, apakah siap atau tidak, apakah menerima atau menolak. Membuat hatiku hancur remuk redam dan menggoreskan luka yang teramat pedih. Sampai anda berteriak, "Ya Allah, kenapa aku diuji seberat ini?"
Dalam kesendirian dan kesepian diselimuti oleh kepedihan. Kepedihan yang kehadirannya tidak pernah anda kehendaki namun kemana-mana selalu mengikuti dan menemani diri anda. Dada terasa perih bagai teriris-iris. Tidak lagi mampu berpikir jernih, Apapun yang dirasakan, apapun yang dipandang, didengar semuanya terasa kepedihan. Hempasan cobaan telah membuat tubuh terasa lunglai. Terpuruk dalam lembah hitam, yang terlihat hanya hitam kelam. Di depan, di belakang, di samping yang ada hanyalah gelap gulita. Walau sudah berusaha, berteriak minta tolong, mendorong, menyingkirkan tetap saja gelap gulita sehingga tidak lagi bisa bergerak maju, menatap ke depan dengan baik, tidak lagi mampu berpikir dengan jernih, tidak lagi merasakan apapun, kemudian melemah. 
Hampir setahun berjalan tugas sekolahku hampir membuat jantung berdebar. Semua kegiatan itu merupakan nilai point juga untuk menentukan kelulusan. Awalnya aku sangat iri dengan teman-temanku mereka menyenangi dengan apa yang seharusnya disenangi. Terkadang aku ingin mengerutui diri sendiri, aku berada di situasi sekolah diluar bayanganku bahkan sempat tengah jalan aku ingin memutuskan pindah sekolah. Tugasku sempat kacau balau bahkan aku sempat disuruh mengulang tugas tersebut. Lantas bagaimana agar aku bisa keluar dan bangkit dari keterpurukan? ditengah keterpurukan, hidupku terasa gelap gulita dan hitam kelam. Ku mencoba tuk bersyukur, musibah dan cobaan yang anda alami ada nikmat rohani yang Allah berikan agar aku bersabar dan diingatkan untuk kembali kepada Allah.  Seakan pikiran negatif pun muncul, dan akhirnya aku sempat down. Betapa tidak, aku hanya memikirkan jika usahaku waktu itu sia-sia. Disisi lain aku bersyukur aku masih mempunyai dukungan di sekililingku. “Hari ini aku boleh kalah.. tapi esok hari adalah hari-hari kemenanganku, dan kau tidak ada kesempatan untuk melihatnya lagi”. Yang akhirnya membuatku termotivasi karena ” TIDAK ADA PANDANGAN YANG LEBIH MENYEDIHKAN DARIPADA ORANG MUDA YANG PESIMIS “ Kalau aku ada kemauan, apapun aku bisa.
Masa lalu merupakan sebuah api unggun, bila anda ingin mempelajarinya sesuatu darinya. Jika tidak, janganlah membuang waktu dengan merenunginya “

Dan sekarang aku belajar dari masa lalu dan tak ingin terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang akan membuat merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang aku inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya. Suksesku sudah di depan mata !
“Menunda Kesenangan Kecil Demi Kesuksesan Besar”
Cita-cita erat kaitannya dengan impian, keinginan, dan satu hal manusia adalah makhluk yang paling tidak pernah puas, betul? Untuk itu kita punya tombol untuk terus menyalakan “ingin”, bagaimana nanti? bagaimana nanti? Dan bagaimana nanti dalam hidup. Kalau gak ada impian tidak ada bedanya sama robot, hidup tapi gak ada nyawanya, gak ada nafsu, gak ada harapan. Justru dengan rajin menyalakan sinyal harapan dalam hidup, hidup kita makin lebih hidup.
Hanya saja, ternyata cita-cita kita tadi, tidak bisa jadi sekedar, sekedar cita-cita, sekadar ingin. Bila kita sekedar ingin, berarti kita belum benar-benar menginginkannya dan bisa jadi juga sebab itulah Allah menunda untuk menjadikan itu terwujud untuk kita.
Aku yang dulu punya cita-cita ingin jadi farmasi/psikolog/arsitek. Lalu aku yang kini punya impian, harapan dan cita-cita ingin menjadi ARSITEK DAN DESAINER. Banyak angan-angan dibenakku. Tapi biarlah waktu yang berbicara. DAN TUNGGU TANGGAL MAINNYA!!
Bagiku punya cita-cita setinggi langit, bukanlah hal yang menakutkan, bila tidak punya cita-cita bolehlah aku merasa takut. Aku tidak takut dan gentar walau pun rintangan itu setinggi gunung dan sedalam lautan. Karena semangatku setinggi langit dan sedalam samudra. Yang aku butuhkan hanyalah konsentrasi pada tujuan. dan semua itu harus ku lalui dengan perjuangan tanpa henti, dan do’a restu dari orang tuaku lalu pasrah kepada Yang Maha Kuasa.
Aku mempunyai MOTTO dalam hidupku      :
“Bila gagal, ingatlah tentang kesuksesan, tapi saat gagal, ingatlah akan kegagalan”.
“Kesuksesan itu bukan untuk dibanggakan dan dimiliki sendiri, tapi adalah untuk dibagikan”,

KARYA         :                       FITRIA AYU RAHMAWATI (XI,BS 4/ 09)
SMK NEGERI 6, Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar